Posted by: gitzlosophy on: November 13, 2008
Mencoba menanggapi posting seorang temen mengenai judging right or wrong. Yang agak susah dilakukan dalam suatu system yang memiliki banyak standar ato istilah lainnya mungkin persepsi. Hmm…sebagai seorang yang awam saya mencoba menuangkan sedikit pemikiran saya. Saya juga enggak tau ini bener ato salah, tapi setidaknya pemikiran saya inilah yang sejauh ini saya yakini.
Sebelumnya, apa sih standar, kebenaran dan system itu?
Standar
Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, standard ato standar itu adalah thing used as a measure. Hmm…berarti uda jelas kan, standar yg saya maksud itu adalah sesuatu – yang entah berasal dari mana – yang mendasari sesorang untuk menentukan pilihan. Kalo menurut saya sih, standar itu umumnya bisa muncul dari system yang udah ada ato bisa juga merupakan hasil perenungan ato pemikiran ulangterhadap system yang udah ada.
Kebenaran
Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, truth ato kebenaran itu adalah :
Menurut saya : kebenaran adalah satu dari dua pilihan penilaian terhadap suatu hal yang diberikan seseorang setelah memalui serangkaian pertimbangan yang didasarkan pada suatu standar. Sehubungan dengan standar yang beragam dan berlalunya waktu, maka saya setuju sama definisi yang diberikan oleh kamus saku tsb; yaitu kebenaran gak mutlak. Karena bakal ada suatu standar baru yang kemudian memperbarui standar yang lama. Seperti kalo dulu di jawa mungkin pake kebaya itu adalah ‘kebenaran’ dari sistem fashion wanita di masa itu; maka sekarang jeans adalah standar ‘kebenaran’ yang baru.
Nah masalahnya, kadang kebenaran tsb membentuk semacem suatu system yang kemudian diturunkan ke dalam berbagai generasi dan kemudian dianggep sebagai kebenaran. Hmm, menurut saya agak riskan sih, soalnya kan kebenaran ‘turunan’ yang kemudian diterima dan dilaksanakan oleh generasi lanjutan tanpa pertimbangan dan standar yang up to date, sama seperti fashion, akan basi. Tapi, emang ada sih ‘kebenaran turunan’ yang ternyata memang terbukti bisa bertahan melalui bebagai kondisi, karena selain memang dibuat berdasarkan standar dan pertimbangan yang ‘sesuai’ , kebenaran tersebut memang sesuai dengan fakta ato situasi yang ada. Bingung ? Saya juga. Hehehe….well, agak susah mengungkapkan dengan kata – kata. Tapi mungkin contohnya kayak, kebijakan beberapa suku – suku pedalaman mengenai lingkungan. Kebijakan atau ‘kebenaran’ tsb timbul dari latar belakang kepercayaan dan kondisi lingkungan mereka saat itu. Umumnya mereka tinggal di alam bebas dan sangat bergantung pada alam. Sehingga mereka sangat menghargai alam. Akhirnya, mereka membuat kebijakan untuk gak merusak alam. Well, ‘kebenaran mereka’ merupakan. Salah satu contoh ‘kebenaran turunan’ yang ternyata masih bisa diterapkan dalam generasi ini.
Tapi kebenaran semacem ’perempuan sebaiknya gak keluar malem’; ‘seks tabu dibicarakan’; ‘agama sebaiknya tidak dipertanyakan’ saya rasa gak relevan lagi…Yo,,saat ini udah agak lumayan sih sebenernya, sudah ada cukup kebebasan, dan sudah mulai banyak dicetuskan ‘kebenaran – kebenaran’ baru; semacem emansipasi wanita dsb…cuman sama seperti komodo yang masih bisa bertahan sampe sekarang…kayaknya ada juga kebenaran purba yang entah gimana masih bisa bertahan dan kayaknya tambah diperkuat; kayak : poligami, cara berpakaian (gada maksud menuju ke satu agak, kayaknya hal ini buat saya kaitannya dengan budaya sih…kalo mau diomongin secara agama, kayaknya da lebih dari 1 agama yang men-standarkan hal ini), cara berperilaku; standar karakter istri; standar karakter perempuan jawa; standar karakter laki – laki,dsb. Nah, hal – hal seperti itulah yang bikin saya semakin enggak ngerti…
System
‘Kebenaran’ kemudian menyusun suatu system dalam suatu populasi. Atw, biasa disebut system norma. Melalui system tsb timbul semacem suatu standar mengenai benar dan salah. Dan system tsb yang mengatur suatu populasi yang membentuknya.
Sebenernya kenapa sih penilaian benar dan salah bisa begitu ribet ? Kalo menurut saya sih mungkin karena karakter, usia, latar belakang, cara pendidikan, pengalaman manusia yang beragam. Dengan banyak hal yang beragam tsb, maka dimungkinkan timbulnya standar ato persepsi ato pandangan yang beragam. Misalnya, buat saya enggak ada masalah kalo adek perempuan saya suka pergi – pergi bareng temen ato pacarnya sampe malem. Enggak masalah juga kalo gaya pacarannya agak terlalu bebas, toh saya percaya adek saya gak segitu bodohnya. Buat saya point is terserah dia aja asal dia bisa jaga diri dia sendiri dan gak sampe hamil di luar nikah titik. Kesimpulan : standar pacaran yang benar menurut saya adalah pokoknya gak sampe hamil. Tapi mamah saya tercinta agak berbeda. Beliau gak suka dengan perilaku adek saya yang suka keluar – keluar mpe malem. Begitu juga dengan gaya pacarannya. At the end tanpa sadar mamah saya membanding – bandingkan adek saya dengan saya yang enggak pernah keluar rumah dan gak ada masalah dengan gaya pacaran (Well, menurut saya ini perbandingan yang gak seimbang; lha wong saya enggak ada ada pacar, gimana mamah bisa protes ttg gaya pacaran saya??). Beliau juga kurang suka dengan gaya pacaran adek saya yang agak terlalu mesra…yang mencakup pegangan tangan, pangku – pangkuan, dsb. Hmm, kesimpulan : standar pacaran yang benar menurut mamah saya mungkin adalah pokoknya gak pake kontak fisik yang lebih dan lebih baik mengisi waktu dgn belajar dan ngerjain pe-er di rumah…hmm…
Kalo mau diliat lagi, sebenernya itu masi merupakan perbedaan pendapat yang ‘ringan’ karena meskipun berbeda pendapat, toh dasarnya adalah karena kami sama – sama sayang dan care sama adek perempuan saya. Karena mama saya besar di keluarga yang agak konservatif dengan lingkungan masyarakat dan sodara2 yang juga serupa maka solusi beliau thdp kondisi pacaran adek saya adalah dengan membatasi gaya pacaran dia. Menurut saya sih itu kayak semacem self defense golongan tua terhadap kondisi masyarakat yang uda jauh berbeda dari saat mereka grow-up dulu. Nah, karena meskipun saya punya hubungan darah dan hampir dibesarkan di lingkungan yang serupa oleh keluarga yang konservatif pula, saya kebetulan grow-up di waktu yang berbeda. Saya juga kebetulan mengenal orang – orang dengan persepsi yang berbeda, baik itu lewat buku, TV atopun secara langsung. Selain itu, sebagai sodara seperjuangan sejak kecil, kebetulan adek saya juga lebih terbuka dan lebih mau menerima advice dari saya. Akhirnya solusi dari saya adalah ‘membebaskan’ adek saya untuk membuat pilihan tentang kegiatan atopun gaya pacaran dia dengan tetap mengontrol dia dan siap member advice saat dirasa perlu. Memang lebih repot sih, tapi krn saya masih belum belerja dan kebetulan masih punya waktu luang lebih banyak dari mama saya yang single parent, maka gak ada masalah yang berarti.
Tapi masalah mana solusi yang bener; sejujurnya saya masih belum tau. Pendapat mama saya punya suatu kelemahan, yaitu adek saya jadi lebih tertutup ke mama saya dan mama saya malah akhirnya ga tau apa ada yang uda terjadi. Keuntungannya, hmm?? Mungkin lebih gampang dilaksanakan aja sih…karena gak menuntut banyak pengawasan…cuman sekali aja dibilangGAK BOLEH!! Trus selanjutnya saat terjadi kesalahan bisa dipake sebagai dasar untuk nyalahin…hehehe…Pendapat saya pun ada celahnya, karena sebagai cewek yang baru berumur 19 tahu, saya masih kurang pengalaman dibanding mamah saya. Intuisi saya pun masih belum setajam mamah saya. Jadi, bisa jadi dengan membebaskan adek saya, saya malah melepaskan dia ke dalam suatu kondisi yang masih belum bisa dia handle dan akhirnya malah dia jadi bikin kesalahan yang gak bisa saya prediksi karena kurangnya pengalaman hidup saya.
See ? Dalam satu keluarga yang terdiri dari 3 orang aja bisa timbul standar yang berbeda. Padahal itupun timbul dari latar belakang yang sama, yaitu rasa sayang dan perhatian terhadap adek bungsu saya. Gimana dengan satu perumahan ? Dan lanjut sampe satu Negara ato bahkan se-dunia.
Tapi toh, kami sekeluarga, saya dan mamah saya tetep akur – akur aja, meskipun sering berantem mempertahankan ‘standar’ hidup kami. Mungkin karena kami terbuka dan kami menyadari bahwa memang kami ‘berbeda’ dan akhirnya mencari solusi untuk mengatasi masalah yang mungkin akan timbul gara – gara ‘keperbedaan’ kami, bukan mencari solusi untuk menyeragamkan perbedaan itu.
Manusia umumnya hidup dalam kelompok. Yang jadi dasar pembentukan suatu kelompok manusia itu ya umumnya karena adanya kesamaan. Itulah kenapa di film – film penjahat umumnya muncul berkelompok, itulah kenapa di sekolah ada grup anak – anak pinter, ada grup cewek – cewek populer. Dan itulah kenapa terbentuk berbagai organisasi. Meskipun anggotanya tetap berbeda karakter, tapi umumnya mereka mempunyai satu hal yang menyatukan mereka dalam kelompok. Dalam suatu populasi bisa timbul berbagai kelompok. Nah kemudian timbul yang namanya mayoritas dan minoritas.
Sebenernya, saya juga msih belum ada cukup pengetahuan untuk bisa menjelaskan kenapa bisa timbul mayoritas dan minoritas. Kalo menurut pemikiran saya sih suatu ‘standar’ bisa jadi mayoritas karena dia ‘seolah-olah’ lebih mudah diterima dan lebih mudah dilakukan. Secara natural tentu kita bakal memilih option yang lebih mudah kan? Meskipun akhirnya masih ada pertimbangan lain yang menjadi dasar buat kita untuk mengambil keputusan. Misalnya, di salah satu kuliah saya, ada seorang dosen yang agak ‘berbeda’. Karena suatu hal, beliau menyatakan bahwa beliau males ngajar dan menawarkan kita untuk gak usah kuliah aja tapi tetep lulus dengan nilai A. Nah, kemudian mahasiswa terbagi menjadi setidaknya 3 kelompok. (Sebenernya mungkin tidak exactly like that…tapi ini cuman buat contoh ato ilustrasi aja). Kelompok A terdiri dari mahasiswa yang males kuliah dan seneng – seneng aja menerima keputusan untuk gak usah kuliah tapi tetep lulus, dapet A lagi. Mereka meyakini pendapat mereka benar, karena standar mereka adalah kuliah tidak menyenangkan dan tidak kuliah menyenangkan. Sejujurnya, secara pribadi saya ga yakin apakah mereka ada pertimbangan tertentu. Kelompok B terdiri dari mahasiswa yang tersiksa oleh hati nuraninya, merasa kalo mereka gak sepantasnya dapet nilai A tanpa kuliah dan tugas – tugas. Mereka juga meyakini pendapat mereka benar, soalnya standar mereka lebih baik kuliah daripada gak kuliah. Mungkin mereka merasa bgt karena sudah ada pemikiran sebelumnya ato bisa jadi hasil motivasi ortu ato senior ato sapalah tentang perlunya pendidikan dan pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Kelompok C merupakan mahasiswa yang cari aman dan memutuskan untuk mengikuti suara terbesar. Menurut saya sih, standar mereka adalah rasa aman / diterima komunal. Lebih baik diterima daripada dikucilkan. Dan akhirnya keputusan mereka bukan bergantung pada standar yang mereka buat sendiri namun standar yang akhirnya ‘menang’. Yo…saya ngaku deh…saya sering terjebak da;am kelompok C…namun kayaknya saya ngerasa itu salah sih…hehe…cuman ngerasa ajah…
Di kasus tsb bisa kita liat bahwa sebenarnya antara kelompok A dan B punya kemungkinan untuk menjadi kelompok mayoritas yang akhirnya menghasilkan kebenaran mayoritas dalam suatu system. Namun, umumnya saat ini standar kelompok A lah yang menjadi standar mayoritas. Karena pada prakteknya lebih mudah dilaksanakan. Dan karena kelompok C merupakan kelompok yang memilih kebenaran apapun yang ‘menang’ akhirnya standar tsb ‘makin kuat’ karena selain lebih mudah juga menimbulkan efek diterima dalam suatu komunitas.
Sebenernya, kalo dipikir lagi, emang agak ribet dan aneh. Umumnya semua individu yang terlibat dalam kasus di atas pasti menyadari suatu ‘kebenaran’ bahwa sebaiknya mengambil keputusan yang diambil kelompok B. Saya rasa setiap orang jauh di dalam hatinya pasti punya kesadaran untuk jadi ‘a good person’, namun kenapa kemudian timbul standar yang berlawanan, saya rasa itulah pengaruh waktu dan lingkungan terhadap suatu system kebenaran. Dan sebagai seorang Kristiani, saya mempercayai itulah yang dinamakan Tuhan dan Iblis. Saya percaya bahwa Tuhan merupakan kebenaran yang mutlak. Dan Dia menciptakan manusia dan seisi alam dalam suatu sistem kebenaran yang mutlak. Namun kemudian ada ‘sesuatu’ yang membuat system kebenaran tsb menjadi ‘berkesan basi’ dan terus menerus digantikan dengan berbagai system kebenaran baru buatan manusia yang tidak akan bisa mutlak. Dan selalu mempunyai celah.
Well, selain itu; ke-mayoritas-an sebenarnya tidak selalu berarti berjumlah besar. Kalo kita liat dalam kasus di atas, ketiga kelompok bisa aja mempunyai kuantitas yang sama. Namun kenapa dari yang 1/3 bisa jadi mayoritas thd yang 2/3 ? Itu karena ada orang – orang seperti kelompok C yang tidak ikut serta dalam satu pemikiran yang serius dan terbuka terhadap suatu permasalahan.
Dalam lingkup yang lebih luas, keperbedaan kemudian menjadi masalah. Karena kemudian beragam standar bukan lagi muncul secara individual namun secara komunal. Dan standar komunal tsb kemudian terbagi menjadi minoritas dan mayoritas. Secara natural kemudian maka yang minoritas akan tersingkir. Sama seperti banyak suku – suku pedalaman yang sampai dalam kondisi tsb karena tersingkir oleh pendatang yang makin me-mayoritas.
Kesimpulan :
Lha Terus ??
Yo…saya sih berusaha agar saya gak terseret arus mayoritas…Seenggaknya saya berusaha memahami dengan baik apa yang akan saya pilih,, seperti seorang temen, saya akan belajar mengkritisi…memandang segala sesuatu secara matematis…melihat dengan objektif postitif dan negatifnya…dan pada akhirnya memutuskan dengan standar kebenaran yang saya percayai…Intinya sih mempertahankan pandangan / pendapat tanpa berusaha menjatuhkan,, meskipun tanpa dilakukan secara terbuka pun, pasti suatu kebenaran akan menjatuhkan kebenaran lain,,tapi siapa sih kita…cuman manusia yang gak jelas dengan keberadaannya sendiri…gimana bisa memperdebatkan kebenaranya yang sebenarnya juga bukan milik mereka,,namun milik ‘Seseorang’ yang merupakan kebenaran itu. Siapa ‘seseorang’ itu,,itu urusan yang lain lagi…
Intinya……
Saya jadi agak bingung juga sih, sebenernya apa sih yang saya bahas ni…??Agak meleter ke sana ke mari sihh……Intinya sih…gak ada yang pasti…bahkan agama dan kepercayaan…sejauh ini beragam kebenaran yang kita anut masing – masing belum terbukti ke’benar’annya…jadi buat apa sih harus ada gontok – gontokan yang meliputi : gontok – gontokan idealism antar fakultas / organisasi kampus; gontok – gontokan antar agama; gontok – gontokan antara artis dangdut dan ‘pembuat undang – undang pornografi’; gontok – gontokan antara anti amerika ato enggak; gontok – gontokan antar partai; gontok – gontokan antara capres ini dan capres itu; yah intinya gontok – gontokan antara ‘system kebenaran’ lah…
Ga ada yang salah dengan mempercayai apa yang kita percayai, cuman saya percaya memang gak seharusnya memaksa orang lain mempercayai apa yang kita percayai…Manusia memang makhluk sosial yang hidupnya saling terkait satu sama lain; cuman bukan berarti manusia berhak ‘memiliki dan mengatur’ kehidupan manusia lain…hormati lah hak mereka untuk memutuskan bagi diri mereka sendiri…Mau jadi orang jahat atau orang baik kan pilihan…Mau nonton film biru ato enggak itu kan pilihan…Mau pake baju minim ato enggak itu kan pilihan…Atur mengatur emang perlu, tapi seperlunya aja…ga usa berlebihan…Aturlah agar hak satu dengan yang lain gak saling bertabrakan…tapi aturlah agar gada hak yang dikorbankan…
Ahem…
Saya jadi semakin pusing……
Yo…gimana ya…Saya juga gak suka juga sih kalo ngeliat ada mbak – mbak bajunya kurang bahan a.k.a seronok, saya juga besar di Indonesia kok,cuman kalo dipikir – pikir apa sih hak saya ngelarang dia…wong hidup saya aja belum tentu lebih baik dari dia…kayak saya enggak ada dosa aja bisa ngehukum dia…
Saya bisa memahami dasar pemikiran mereka, bahwa kalo enggak dilarang – larang atao dibatasi…maka bisa jadi semakin menjadi – jadi…Banyak temen saya yang bilang bahwa pemikiran saya yang kayak gini ini malah terlalu idealis gak realistis…Pemikiran ini bisa berhasil jika dan hanya jika, pelakunya adalah orang – orang seperti saya…yang lebih aware…lebih ‘gampang diatur’lah istilahnya…Lalu kalo orang – orang yang bandel,,,mereka enggak bisa pake cara ini…bisa ngelunjak…
Yo terserahlah…pokoknya saya enggak mau menipu diri saya sendiri dengan mengatakan saya setuju…karena emang saya enggak setuju…tapi,,seperti yang saya bilang…saya gak bisa bilang 100% salah dan 100% benar karena emang dengan banyaknya persepsi…ga ada yang 100% benar ato 100% salah…
Ahem…
Mungkin intinya adalah…saya mau bilang…bahwa menghadapi semua ini…sikap saya adalah : Saya mengerti dan saya tidak setuju.Nah looo…bingung… Saya memiliki standar kebenaran saya sendiri yang sejauh saya bisa akan saya pertahankan tanpa pertentangan.
Halah…
Bener – bener udah gak nyampek pemikirannya…
December 2, 2008 at 7:01 am
huff.
benar?
salah?
sistem yang menentukan.
cuman sedikit pendapat pribadi yang BISA mengalahkan sistem.
tak tahu lah.
pilih aja mau di minoritas ato di mayoritas.
ikut sistem atau lawan sistem.
bersuara atau diam.
kalo sekarang aku jadi orang yg apatis, mengejar ambisi pribadi, tapi itu pun harus siap dengan konsekuensinya nanti.
minoritas, ikut sistem, dan diam.
konsekuensinya?
sebodo amat…