Menghilang Bersama Langit
Posted by: gitzlosophy on: February 2, 2008
26 january 2008
Suatu malam, di bawah langit tanpa bintang. Ada dua sosok yang saling berbincang. Saling membujuk dan saling mengintimidasi. Tidak ada yang ingin kalah atau mengalah. Bagaimanapun, selain kemenangan, kekalahan tidak lagi berarti. Kekalahan tidak menjamin apapun.
Sosok pertama tiba-tiba berdiri. Dia mendongak ke atas, keangkuhannya seperti ingin mengalahkan langit. Sebuah rokok tersangkut di antara jemari tangan kanannya. Asap yang putih menari-nari keluar dari ujung rokok. Bentuk yang hanya bisa dilihat tanpa bisa disentuh itu terus menggeliat ke atas, seolah ingin melawan fakta bahwa sahabatnya sang abu telah kalah dan berjatuhan ke tanah.
Sosok yang lain seperti tidak terpengaruh. Tetap diam sambil memandang rerumputan yang basah di ujung-ujung jarinya. Dengan lembut ia berkata, “ Bintang tidak muncul kali ini, Langit, apa yang kau cari ?”
Sosok yang ternyata bernama Langit itu mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum dia menoleh dan berteriak dengan kesal,” Siapa bilang aku mencari bintang ? Aku mencari kehidupan, Nura! Aku mencari..aku…Akh..!!!”
Langit berhenti berbicara. Ia memandangi Nura dengan penuh amarah sebelum akhirnya berpaling. Ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Kehidupan telah menggambarkan semuanya. Ia mencari kehidupan. Kehidupan miliknya sendiri. Kebebasan, kekuatan, kepuasan, kegilaan. Ia membutuhkan warna yang baru. Ia membutuhkan sebuah kehidupan.
Nura tersenyum lembut,” Kehidupan ? Untuk apa kau mencarinya. Ia sudah ada. Ia selalu ada. Selama 18 tahun ini ia selalu ada. Kehidupan tidak pernah menghilang jauh, Langit.”
Langit menjatuhkan dirinya dengan kesal,” lalu mengapa aku tidak pernah merasakannya, Nura ? Ada di mana kehidupan milikku ? Aku menginginkan kehidupanku. MILIKKU, Nura!!” Ia mengisap rokoknya kuat-kuat,” Kehidupan yang ada, yang kau bilang tidak pernah menghilang, bukan milikku. Selama 18 tahun ini, kehidupan itu telah dirampas oleh banyak orang. Selama 18 tahun ini aku tidak pernah hidup untuk diriku sendiri, Nura.”
“ Selalu ada orangtua, saudara, keluarga, sahabat, kekasih. Hhf..” Langit menghapus air mata yang mulai menetes dengan tangan kirinya,” Terlalu banyak terbagi, sampai-sampai aku tidak bisa memiliki kehidupanku sendiri…Aku lelah, Nura. Aku ingin kehidupanku sendiri..”
“ Kehidupan yang seperti apa ?” Nura menoleh. Mengamati wajah Langit yang kurus. Diam-diam Nura berbisik pelan,’Apakah terlalu lama aku meninggalkanmu, Langit ? Ataukah, kau yang tiba-tiba menghilang ?”
Wajah Langit seolah bercahaya saat ia berkata,” kehidupan..milikku. Hanya milikku. Aku ingin merasakan hasrat yang begitu kuat, yang selalu membuatku merasa hidup. Yang selalu menginspirasi. Aku ingin mencintai seorang pria dengan seluruh hidupku. Aku ingin mengorbankan hatiku. Aku ingin mencium bibirnya dan merasakan kulitnya yang kasar.Aku…” Langit menoleh dan melanjutkan dengan antusias, menghiraukan raut Nura yang sedikit berubah,” Aku ingin merasakan rasa sakit yang begitu menyakitkan. Sampai-sampai aku tidak bisa merasakan perasaan lain selain rasa sakit. Aku menginginkan malam yang panas dan siang yang dingin. Aku memimpikan kemustahilan…”
Nura terkejut. Dalam sesaat, wajah langit nampak bercahaya. Langit nampak begitu…bahagia..
“ Tapi aku rasa kau tidak bisa mengerti, Nura. Semua itu terlalu gelap bukan ? Terlalu jahat dan berbahaya bukan ?” Langit kembali muram dan berbalik pada rokoknya.
Nura tertunduk, sejauh inikah Langit berlalu ? Sudah sejauh inikah impiannya ? Terlalu gelap ,Langit, terlalu mengerikan khayalanmu, Langit.
“ Kau mengenalku, Langit. Seharusnya kau mengenal dirimu seperti kau mengenalku.” Nura memohon, “ Bukan itu yang kau inginkan, Langit ? Berhentilah sebelum…”
“Aah…!!” Langit berteriak dengan geram,” Berhenti sebelum apa ? Sebelum aku membunuh diriku sendiri ? Sebelum aku membahayakan diriku ?”
“ Nura, mengertilah! Memang itulah yang kuinginkan! Memang rasa sakitlah yang kudambakan!” Langit meremas rambut panjangnya dengan gemas,” Bukan kehidupan seperti ini yang kuinginkan. Aku tidak menginginkan rambut yang panjang dan kulit yang halus. Aku tidak menginginkan pernikahan yang bahagia ataupun perhiasan yang berkilau.”
“Mereka tidak bisa memberikanku apapun selain kehampaan.” Langit mulai kehilangan kendali. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Nura yang terus membisu dalam tangisan, “ Nura, hanya kau yang seharusnya mengerti! Aku muak dengan semua ini, aku menginginkannya.AKU MENGINGINKANNYA!!!”
Mereka berdua terus terisak sementara malam semakin menghilang. Sampai akhirnya Langit berjalan pergi tanpa bisa ditahan oleh Nura. Begitu sakit bagi Nura melihat Langit menjauh dan berjalan menuju kekosongan. Perlahan satu persatu bagian tubuh Langit menghilang ditelan kelam. Sementara jauh di belakangnya, Nura mengalami hal yang sama.
Nura tahu dengan pasti, kelam juga akan menelannya. Tanpa ampun mereka akhirnya menghilang. Karena mereka berbagi kehidupan yang sama.
Pada akhirnya pagi tetap datang, namun, ia hanya menyisakan sebuah puntung rokok di atas rumput yang basah. Nura telah menghilang bersama Langit. Pergi ke suatu tempat yang menipu. Suatu tempat dengan impian yang semu. Inferno.
Lumayan baru..
Inti cerita hampir mirip dengan Antara Aku, Dia dan Hatiku. Tapi lebih dikembangin ke dark-sidenya..Agak terlalu puitis mungkin, tepi sesuai dengan apa yang saya mau..
Inspirasi ya dari diri sendiri. Pemikiran tentang sisi gelap saya mulai muncul akhir-akhir ini. Soalnya dalam minggu-minggu ini saya melakukan banyak hal yang dulunya di luar batasan saya. Pengennya sih jadi someone yang keren, berkarakter, nggak terbatas…yah gitu deh..
Tapi setelah menerima comment gak enak dari my best friends tentang perubahan saya,,saya jadi berpikir dua kali. Apa itu yang bener-bener saya mau ? Buat apa saya berusaha meraih kehidupan yang saya impikan kalo saya nggak bisa nyenengin orang-orang yang selama ini sayang beneran sama saya.
Selama beberapa hari ini, saya terus mikir. Dan selama itu, kayaknya didalam badan saya ada dua pribadi yang saling menentang. Dua karakter itu saya lambangkan dengan Langit dan Nura.
Nura sebenernya kependekan dari Nurani, sesuatu yang membuat manusia terus menerus hidup lurus. Menggambarkan hati kecil saya, yang terus menerus menentang pemikiran-pemikiran saya yang terlalu wild..Sementara Langit merepresentasikan karakter yang angkuh dan ambisius. Selalu ingin meraih keinginannya dan selalu ingin lepas dari bayang-bayang ‘kehidupan yang biasa’. Dalam beberapa hal, Langit bisa juga dipake untuk menggambarkan my dark side.
Endingnya emang negatif. Karena saya pikir, mungkin itulah yang bakal terjadi kalo saya gak punya Tuhan yang mampu menahan langkah kaki si Langit.
A bit religius..tapi,, saya nyadar..kalo sudah seharusnya saya berpikir begitu…
Recent Comments