Posted by: gitzlosophy on: November 13, 2008
Mencoba menanggapi posting seorang temen mengenai judging right or wrong. Yang agak susah dilakukan dalam suatu system yang memiliki banyak standar ato istilah lainnya mungkin persepsi. Hmm…sebagai seorang yang awam saya mencoba menuangkan sedikit pemikiran saya. Saya juga enggak tau ini bener ato salah, tapi setidaknya pemikiran saya inilah yang sejauh ini saya yakini.
Sebelumnya, apa sih standar, kebenaran dan system itu?
Standar
Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, standard ato standar itu adalah thing used as a measure. Hmm…berarti uda jelas kan, standar yg saya maksud itu adalah sesuatu – yang entah berasal dari mana – yang mendasari sesorang untuk menentukan pilihan. Kalo menurut saya sih, standar itu umumnya bisa muncul dari system yang udah ada ato bisa juga merupakan hasil perenungan ato pemikiran ulangterhadap system yang udah ada.
Kebenaran
Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, truth ato kebenaran itu adalah :
Menurut saya : kebenaran adalah satu dari dua pilihan penilaian terhadap suatu hal yang diberikan seseorang setelah memalui serangkaian pertimbangan yang didasarkan pada suatu standar. Sehubungan dengan standar yang beragam dan berlalunya waktu, maka saya setuju sama definisi yang diberikan oleh kamus saku tsb; yaitu kebenaran gak mutlak. Karena bakal ada suatu standar baru yang kemudian memperbarui standar yang lama. Seperti kalo dulu di jawa mungkin pake kebaya itu adalah ‘kebenaran’ dari sistem fashion wanita di masa itu; maka sekarang jeans adalah standar ‘kebenaran’ yang baru.
Nah masalahnya, kadang kebenaran tsb membentuk semacem suatu system yang kemudian diturunkan ke dalam berbagai generasi dan kemudian dianggep sebagai kebenaran. Hmm, menurut saya agak riskan sih, soalnya kan kebenaran ‘turunan’ yang kemudian diterima dan dilaksanakan oleh generasi lanjutan tanpa pertimbangan dan standar yang up to date, sama seperti fashion, akan basi. Tapi, emang ada sih ‘kebenaran turunan’ yang ternyata memang terbukti bisa bertahan melalui bebagai kondisi, karena selain memang dibuat berdasarkan standar dan pertimbangan yang ‘sesuai’ , kebenaran tersebut memang sesuai dengan fakta ato situasi yang ada. Bingung ? Saya juga. Hehehe….well, agak susah mengungkapkan dengan kata – kata. Tapi mungkin contohnya kayak, kebijakan beberapa suku – suku pedalaman mengenai lingkungan. Kebijakan atau ‘kebenaran’ tsb timbul dari latar belakang kepercayaan dan kondisi lingkungan mereka saat itu. Umumnya mereka tinggal di alam bebas dan sangat bergantung pada alam. Sehingga mereka sangat menghargai alam. Akhirnya, mereka membuat kebijakan untuk gak merusak alam. Well, ‘kebenaran mereka’ merupakan. Salah satu contoh ‘kebenaran turunan’ yang ternyata masih bisa diterapkan dalam generasi ini.
Tapi kebenaran semacem ’perempuan sebaiknya gak keluar malem’; ‘seks tabu dibicarakan’; ‘agama sebaiknya tidak dipertanyakan’ saya rasa gak relevan lagi…Yo,,saat ini udah agak lumayan sih sebenernya, sudah ada cukup kebebasan, dan sudah mulai banyak dicetuskan ‘kebenaran – kebenaran’ baru; semacem emansipasi wanita dsb…cuman sama seperti komodo yang masih bisa bertahan sampe sekarang…kayaknya ada juga kebenaran purba yang entah gimana masih bisa bertahan dan kayaknya tambah diperkuat; kayak : poligami, cara berpakaian (gada maksud menuju ke satu agak, kayaknya hal ini buat saya kaitannya dengan budaya sih…kalo mau diomongin secara agama, kayaknya da lebih dari 1 agama yang men-standarkan hal ini), cara berperilaku; standar karakter istri; standar karakter perempuan jawa; standar karakter laki – laki,dsb. Nah, hal – hal seperti itulah yang bikin saya semakin enggak ngerti…
System
‘Kebenaran’ kemudian menyusun suatu system dalam suatu populasi. Atw, biasa disebut system norma. Melalui system tsb timbul semacem suatu standar mengenai benar dan salah. Dan system tsb yang mengatur suatu populasi yang membentuknya.
Sebenernya kenapa sih penilaian benar dan salah bisa begitu ribet ? Kalo menurut saya sih mungkin karena karakter, usia, latar belakang, cara pendidikan, pengalaman manusia yang beragam. Dengan banyak hal yang beragam tsb, maka dimungkinkan timbulnya standar ato persepsi ato pandangan yang beragam. Misalnya, buat saya enggak ada masalah kalo adek perempuan saya suka pergi – pergi bareng temen ato pacarnya sampe malem. Enggak masalah juga kalo gaya pacarannya agak terlalu bebas, toh saya percaya adek saya gak segitu bodohnya. Buat saya point is terserah dia aja asal dia bisa jaga diri dia sendiri dan gak sampe hamil di luar nikah titik. Kesimpulan : standar pacaran yang benar menurut saya adalah pokoknya gak sampe hamil. Tapi mamah saya tercinta agak berbeda. Beliau gak suka dengan perilaku adek saya yang suka keluar – keluar mpe malem. Begitu juga dengan gaya pacarannya. At the end tanpa sadar mamah saya membanding – bandingkan adek saya dengan saya yang enggak pernah keluar rumah dan gak ada masalah dengan gaya pacaran (Well, menurut saya ini perbandingan yang gak seimbang; lha wong saya enggak ada ada pacar, gimana mamah bisa protes ttg gaya pacaran saya??). Beliau juga kurang suka dengan gaya pacaran adek saya yang agak terlalu mesra…yang mencakup pegangan tangan, pangku – pangkuan, dsb. Hmm, kesimpulan : standar pacaran yang benar menurut mamah saya mungkin adalah pokoknya gak pake kontak fisik yang lebih dan lebih baik mengisi waktu dgn belajar dan ngerjain pe-er di rumah…hmm…
Kalo mau diliat lagi, sebenernya itu masi merupakan perbedaan pendapat yang ‘ringan’ karena meskipun berbeda pendapat, toh dasarnya adalah karena kami sama – sama sayang dan care sama adek perempuan saya. Karena mama saya besar di keluarga yang agak konservatif dengan lingkungan masyarakat dan sodara2 yang juga serupa maka solusi beliau thdp kondisi pacaran adek saya adalah dengan membatasi gaya pacaran dia. Menurut saya sih itu kayak semacem self defense golongan tua terhadap kondisi masyarakat yang uda jauh berbeda dari saat mereka grow-up dulu. Nah, karena meskipun saya punya hubungan darah dan hampir dibesarkan di lingkungan yang serupa oleh keluarga yang konservatif pula, saya kebetulan grow-up di waktu yang berbeda. Saya juga kebetulan mengenal orang – orang dengan persepsi yang berbeda, baik itu lewat buku, TV atopun secara langsung. Selain itu, sebagai sodara seperjuangan sejak kecil, kebetulan adek saya juga lebih terbuka dan lebih mau menerima advice dari saya. Akhirnya solusi dari saya adalah ‘membebaskan’ adek saya untuk membuat pilihan tentang kegiatan atopun gaya pacaran dia dengan tetap mengontrol dia dan siap member advice saat dirasa perlu. Memang lebih repot sih, tapi krn saya masih belum belerja dan kebetulan masih punya waktu luang lebih banyak dari mama saya yang single parent, maka gak ada masalah yang berarti.
Tapi masalah mana solusi yang bener; sejujurnya saya masih belum tau. Pendapat mama saya punya suatu kelemahan, yaitu adek saya jadi lebih tertutup ke mama saya dan mama saya malah akhirnya ga tau apa ada yang uda terjadi. Keuntungannya, hmm?? Mungkin lebih gampang dilaksanakan aja sih…karena gak menuntut banyak pengawasan…cuman sekali aja dibilangGAK BOLEH!! Trus selanjutnya saat terjadi kesalahan bisa dipake sebagai dasar untuk nyalahin…hehehe…Pendapat saya pun ada celahnya, karena sebagai cewek yang baru berumur 19 tahu, saya masih kurang pengalaman dibanding mamah saya. Intuisi saya pun masih belum setajam mamah saya. Jadi, bisa jadi dengan membebaskan adek saya, saya malah melepaskan dia ke dalam suatu kondisi yang masih belum bisa dia handle dan akhirnya malah dia jadi bikin kesalahan yang gak bisa saya prediksi karena kurangnya pengalaman hidup saya.
See ? Dalam satu keluarga yang terdiri dari 3 orang aja bisa timbul standar yang berbeda. Padahal itupun timbul dari latar belakang yang sama, yaitu rasa sayang dan perhatian terhadap adek bungsu saya. Gimana dengan satu perumahan ? Dan lanjut sampe satu Negara ato bahkan se-dunia.
Tapi toh, kami sekeluarga, saya dan mamah saya tetep akur – akur aja, meskipun sering berantem mempertahankan ‘standar’ hidup kami. Mungkin karena kami terbuka dan kami menyadari bahwa memang kami ‘berbeda’ dan akhirnya mencari solusi untuk mengatasi masalah yang mungkin akan timbul gara – gara ‘keperbedaan’ kami, bukan mencari solusi untuk menyeragamkan perbedaan itu.
Manusia umumnya hidup dalam kelompok. Yang jadi dasar pembentukan suatu kelompok manusia itu ya umumnya karena adanya kesamaan. Itulah kenapa di film – film penjahat umumnya muncul berkelompok, itulah kenapa di sekolah ada grup anak – anak pinter, ada grup cewek – cewek populer. Dan itulah kenapa terbentuk berbagai organisasi. Meskipun anggotanya tetap berbeda karakter, tapi umumnya mereka mempunyai satu hal yang menyatukan mereka dalam kelompok. Dalam suatu populasi bisa timbul berbagai kelompok. Nah kemudian timbul yang namanya mayoritas dan minoritas.
Sebenernya, saya juga msih belum ada cukup pengetahuan untuk bisa menjelaskan kenapa bisa timbul mayoritas dan minoritas. Kalo menurut pemikiran saya sih suatu ‘standar’ bisa jadi mayoritas karena dia ‘seolah-olah’ lebih mudah diterima dan lebih mudah dilakukan. Secara natural tentu kita bakal memilih option yang lebih mudah kan? Meskipun akhirnya masih ada pertimbangan lain yang menjadi dasar buat kita untuk mengambil keputusan. Misalnya, di salah satu kuliah saya, ada seorang dosen yang agak ‘berbeda’. Karena suatu hal, beliau menyatakan bahwa beliau males ngajar dan menawarkan kita untuk gak usah kuliah aja tapi tetep lulus dengan nilai A. Nah, kemudian mahasiswa terbagi menjadi setidaknya 3 kelompok. (Sebenernya mungkin tidak exactly like that…tapi ini cuman buat contoh ato ilustrasi aja). Kelompok A terdiri dari mahasiswa yang males kuliah dan seneng – seneng aja menerima keputusan untuk gak usah kuliah tapi tetep lulus, dapet A lagi. Mereka meyakini pendapat mereka benar, karena standar mereka adalah kuliah tidak menyenangkan dan tidak kuliah menyenangkan. Sejujurnya, secara pribadi saya ga yakin apakah mereka ada pertimbangan tertentu. Kelompok B terdiri dari mahasiswa yang tersiksa oleh hati nuraninya, merasa kalo mereka gak sepantasnya dapet nilai A tanpa kuliah dan tugas – tugas. Mereka juga meyakini pendapat mereka benar, soalnya standar mereka lebih baik kuliah daripada gak kuliah. Mungkin mereka merasa bgt karena sudah ada pemikiran sebelumnya ato bisa jadi hasil motivasi ortu ato senior ato sapalah tentang perlunya pendidikan dan pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Kelompok C merupakan mahasiswa yang cari aman dan memutuskan untuk mengikuti suara terbesar. Menurut saya sih, standar mereka adalah rasa aman / diterima komunal. Lebih baik diterima daripada dikucilkan. Dan akhirnya keputusan mereka bukan bergantung pada standar yang mereka buat sendiri namun standar yang akhirnya ‘menang’. Yo…saya ngaku deh…saya sering terjebak da;am kelompok C…namun kayaknya saya ngerasa itu salah sih…hehe…cuman ngerasa ajah…
Di kasus tsb bisa kita liat bahwa sebenarnya antara kelompok A dan B punya kemungkinan untuk menjadi kelompok mayoritas yang akhirnya menghasilkan kebenaran mayoritas dalam suatu system. Namun, umumnya saat ini standar kelompok A lah yang menjadi standar mayoritas. Karena pada prakteknya lebih mudah dilaksanakan. Dan karena kelompok C merupakan kelompok yang memilih kebenaran apapun yang ‘menang’ akhirnya standar tsb ‘makin kuat’ karena selain lebih mudah juga menimbulkan efek diterima dalam suatu komunitas.
Sebenernya, kalo dipikir lagi, emang agak ribet dan aneh. Umumnya semua individu yang terlibat dalam kasus di atas pasti menyadari suatu ‘kebenaran’ bahwa sebaiknya mengambil keputusan yang diambil kelompok B. Saya rasa setiap orang jauh di dalam hatinya pasti punya kesadaran untuk jadi ‘a good person’, namun kenapa kemudian timbul standar yang berlawanan, saya rasa itulah pengaruh waktu dan lingkungan terhadap suatu system kebenaran. Dan sebagai seorang Kristiani, saya mempercayai itulah yang dinamakan Tuhan dan Iblis. Saya percaya bahwa Tuhan merupakan kebenaran yang mutlak. Dan Dia menciptakan manusia dan seisi alam dalam suatu sistem kebenaran yang mutlak. Namun kemudian ada ‘sesuatu’ yang membuat system kebenaran tsb menjadi ‘berkesan basi’ dan terus menerus digantikan dengan berbagai system kebenaran baru buatan manusia yang tidak akan bisa mutlak. Dan selalu mempunyai celah.
Well, selain itu; ke-mayoritas-an sebenarnya tidak selalu berarti berjumlah besar. Kalo kita liat dalam kasus di atas, ketiga kelompok bisa aja mempunyai kuantitas yang sama. Namun kenapa dari yang 1/3 bisa jadi mayoritas thd yang 2/3 ? Itu karena ada orang – orang seperti kelompok C yang tidak ikut serta dalam satu pemikiran yang serius dan terbuka terhadap suatu permasalahan.
Dalam lingkup yang lebih luas, keperbedaan kemudian menjadi masalah. Karena kemudian beragam standar bukan lagi muncul secara individual namun secara komunal. Dan standar komunal tsb kemudian terbagi menjadi minoritas dan mayoritas. Secara natural kemudian maka yang minoritas akan tersingkir. Sama seperti banyak suku – suku pedalaman yang sampai dalam kondisi tsb karena tersingkir oleh pendatang yang makin me-mayoritas.
Kesimpulan :
Lha Terus ??
Yo…saya sih berusaha agar saya gak terseret arus mayoritas…Seenggaknya saya berusaha memahami dengan baik apa yang akan saya pilih,, seperti seorang temen, saya akan belajar mengkritisi…memandang segala sesuatu secara matematis…melihat dengan objektif postitif dan negatifnya…dan pada akhirnya memutuskan dengan standar kebenaran yang saya percayai…Intinya sih mempertahankan pandangan / pendapat tanpa berusaha menjatuhkan,, meskipun tanpa dilakukan secara terbuka pun, pasti suatu kebenaran akan menjatuhkan kebenaran lain,,tapi siapa sih kita…cuman manusia yang gak jelas dengan keberadaannya sendiri…gimana bisa memperdebatkan kebenaranya yang sebenarnya juga bukan milik mereka,,namun milik ‘Seseorang’ yang merupakan kebenaran itu. Siapa ‘seseorang’ itu,,itu urusan yang lain lagi…
Intinya……
Saya jadi agak bingung juga sih, sebenernya apa sih yang saya bahas ni…??Agak meleter ke sana ke mari sihh……Intinya sih…gak ada yang pasti…bahkan agama dan kepercayaan…sejauh ini beragam kebenaran yang kita anut masing – masing belum terbukti ke’benar’annya…jadi buat apa sih harus ada gontok – gontokan yang meliputi : gontok – gontokan idealism antar fakultas / organisasi kampus; gontok – gontokan antar agama; gontok – gontokan antara artis dangdut dan ‘pembuat undang – undang pornografi’; gontok – gontokan antara anti amerika ato enggak; gontok – gontokan antar partai; gontok – gontokan antara capres ini dan capres itu; yah intinya gontok – gontokan antara ‘system kebenaran’ lah…
Ga ada yang salah dengan mempercayai apa yang kita percayai, cuman saya percaya memang gak seharusnya memaksa orang lain mempercayai apa yang kita percayai…Manusia memang makhluk sosial yang hidupnya saling terkait satu sama lain; cuman bukan berarti manusia berhak ‘memiliki dan mengatur’ kehidupan manusia lain…hormati lah hak mereka untuk memutuskan bagi diri mereka sendiri…Mau jadi orang jahat atau orang baik kan pilihan…Mau nonton film biru ato enggak itu kan pilihan…Mau pake baju minim ato enggak itu kan pilihan…Atur mengatur emang perlu, tapi seperlunya aja…ga usa berlebihan…Aturlah agar hak satu dengan yang lain gak saling bertabrakan…tapi aturlah agar gada hak yang dikorbankan…
Ahem…
Saya jadi semakin pusing……
Yo…gimana ya…Saya juga gak suka juga sih kalo ngeliat ada mbak – mbak bajunya kurang bahan a.k.a seronok, saya juga besar di Indonesia kok,cuman kalo dipikir – pikir apa sih hak saya ngelarang dia…wong hidup saya aja belum tentu lebih baik dari dia…kayak saya enggak ada dosa aja bisa ngehukum dia…
Saya bisa memahami dasar pemikiran mereka, bahwa kalo enggak dilarang – larang atao dibatasi…maka bisa jadi semakin menjadi – jadi…Banyak temen saya yang bilang bahwa pemikiran saya yang kayak gini ini malah terlalu idealis gak realistis…Pemikiran ini bisa berhasil jika dan hanya jika, pelakunya adalah orang – orang seperti saya…yang lebih aware…lebih ‘gampang diatur’lah istilahnya…Lalu kalo orang – orang yang bandel,,,mereka enggak bisa pake cara ini…bisa ngelunjak…
Yo terserahlah…pokoknya saya enggak mau menipu diri saya sendiri dengan mengatakan saya setuju…karena emang saya enggak setuju…tapi,,seperti yang saya bilang…saya gak bisa bilang 100% salah dan 100% benar karena emang dengan banyaknya persepsi…ga ada yang 100% benar ato 100% salah…
Ahem…
Mungkin intinya adalah…saya mau bilang…bahwa menghadapi semua ini…sikap saya adalah : Saya mengerti dan saya tidak setuju.Nah looo…bingung… Saya memiliki standar kebenaran saya sendiri yang sejauh saya bisa akan saya pertahankan tanpa pertentangan.
Halah…
Bener – bener udah gak nyampek pemikirannya…
Posted by: gitzlosophy on: November 13, 2008
TUHAN DAN HAL – HAL YANG TIDAK BISA DIMENGERTI
Sebagai seorang Kristen yang kebenaran imannya didasarkan pada alkitab ato yang orang awam biasa bilang injil, maka jelas ada saat di mana saya meragukan keabsahan alkitab. Ya, saya mengakui Tuhan itu ada dan kebenaran-Nya mutlak, tapi saat keabsahan alkitab kemudian diobrak abrik , maka kemudian iman saya akan runtuh. Alkitab jelas ditulis oleh manusia, melalui pemikiran manusia, meskipun dalam surat pada Timotius, Paulus bilang kalo ‘Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.’ Jadi, alkitab ditulis melalui dan oleh manusia namun asalnya adalah ilham / wahyu dari Tuhan. Pertama, bagaimana kita bisa tahu bahwa orang – orang tsb benar – benar menulis melalui ilham dari Tuhan. Kedua, mereka kan cuma manusia, yang bisa berbuat kesalahan, bagaimana kita bisa tahu tulisan mereka mengandung kesalahan ato enggak ??
Sebagai seorang Kristen ecek – ecek yang cuma menerima ‘kebenaran’ secara turun temurun, agak susah buat saya buat menjawab pertanyaan itu. Apalagi saya besar dalam keluarga dan lingkungan yang mendidik saya untuk tidak mempertanyakan doktrin – doktrin agama. Dan kemudian saya melalui 3 tahun yang berat dan penuh dengan pertanyaan dan kegelisahan.
Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen dengan didikan Kristen. Dan itu artinya, saya telah menerima doktrin tentang surga dan neraka. Dengan jelas diberitahukan bahwa orang baik masuk surga dan orang jahat masuk neraka. Dengan informasi bahwa neraka itu luarbiasa ga enak, ada api 24 jam lah,,ada orang – orang yang kesakitan lah..ada yang bilang berlapis – lapis lahh…dan intinya no way out,,jadi setelah masuk gak akan bisa keluar…Gile ajah…kayak gitu apa gak serem namanya…!!!. Dan selama 12 tahun saya telah memahami itu baik – baik. Saya orang yang paling rajin ke gereja, ikut paduan suara dan saya menikmati berdoa kepada Tuhan sebelum tidur. Yo…jadi good girl lah selam 12 tahun itu…
Lalu kemudian, saya goyah dalam suatu perdebatan yang gak penting dengan seorang teman yang berbeda keyakinan. Dia bilang kalo dia percaya dengan agama yang dia anut sekarang, sampe dia gak takut kalo itu berarti dia akan masuk neraka agama lain. Hmm…saya mikir…dia keliatan sangat yakin dan membuat saya memutuskan untuk meninjau ulang kepercayaan saya kepada Tuhan selama ini. Saat itu, saya SMA.
Sejak saat itu, selama 3 tahun saya selalu gelisah. Setiap saat ada dua suara yang berteriak dalam kepala saya. Dan perkataan ‘mereka’ selalu bertentangan. Di satu sisi saya memahami dengan baik konsep surga dan neraka. Yang mengakibatkan saya enggak bisa berpikir terbuka, menelanjangi kepercayaan saya, nabi – nabi dan Tuhan yang saya percaya. Saya merasa bersalah bahkan hanya dengan berpikir bahwa semua itu ‘mungkin’ salah. Selalu ada malam – malam di mana saya mengalami insomnia, gak bisa tidur. Seorang pendeta dalam khotbah hari Minggu mengatakan bahwa kematian gak bisa ditebak kapan datangnya. Dia bilang ada seorang remaja yang dia temui di gereja suatu hari dalam kondisi sehat – sehat aja, namun kemudian beberapa saat kemudian remaja tsb meninggal saat pulang dari gereja. Sumpah, saya takuuutttt banget. Setiap saat saya bisa aja mati, dan saat itu saya masih belum yakin apakah saya akan ‘aman’ setelah saya mati nanti. Akibatnya : saya takut memejamkan mata, karena saya takut kalo besok pagi saya mungkin ga bisa bangun. Dan seperti sebuah algoritma if-else, akan muncul 2 pilihan.
a)Ternyata iman saya selama 12 tahun sebelumnya itu benar, dan setelah tiba di pintu surga, Tuhan Yesus yang menyambut di pintu Surga bilang, “Aku tidak mengenalMU”. Dan saya berusaha meyakinkan dengan bla..bla..bla…Tuhan saya rajin sekolah minggu, pelayanan, bla..bla..bla..Lalu mungkin Tuhan akan menjawab balik,” Masa sih? Trus kok selama 7 tahun terakhir ini, kamu menolak berbicara dan curhat denganKU, kamu lebih mempercayai dunia yang jelas – jelas gak bisa dipercaya, bahkan kamu meragukan KEBERADAANKU? KEBENARAN FIRMANKU?” Dan shuh………saya diterbangkan langsung ke neraka untuk kemudian bernasib sama dengan orang kaya yang minta tolong sama Lazarus. Intinya : saya masuk neraka. Dan SAYA MASUK NERAKA…yang one gate system itu,,dengan kondisi : gada exit…NO WAY OUT, JUST IN…
b)Ternyata iman saya selama 12 tahun sebelumnya itu emang salah. Dan kemudian, saya menderita dan masuk neraka bersama dengan keluarga dan temen – temen di gereja saya. Intinya : saya tetep masuk neraka. HUH!
Setengah mati kemudian saya berusaha ‘memahami’ Tuhan. Buat apa dia menciptakan saya ? Apa karena Dia bosen, lalu kemudian memutuskan untuk menciptakan alam dan manusia untuk menyembah Dia. Apa saya ini cuman mainannya Tuhan ??
Tuhan manakah yang benar ? tuhan agama x atau Tuhan yang selama ini saya percaya ?
Hmm,, saya terus menerus bertanya sampai akhirnya saya mendapati suatu fakta bahwa.
Yo gak tepat kayak gitu juga sih…cuman, kayaknya udah natur manusia buat menyembah…jadi biarpun ga suka,,kayaknya itu udah bukan sesuatu yang bisa saya bantah atau ubah…
Masalahnya adalah tuhan yang mana?? Nah, kembali pada no 3. Inilah Tuhan yang saya pilih, saya percayai. Mungkin mang saya gak bisa melihat dan membuktikan Tuhan, namun saya bisa melihat, melakukan dan membuktikan kebenaran-Nya…saya rasa itu cukup…
Epilog : Well, ‘pelajaran moralnya’ sih, mungkin…
Posted by: gitzlosophy on: November 13, 2008

Things I Hate
Ahem…
Ya Ampun…itu beneran saya??
Hmm, sepertinya saya ini orang yang sangat bergantung pada persepsi orang lain. Menurut saya, persepsi positif akan timbul kalo saya jadi sosok yang kuat dan perfect.
Ahem…
Masak sih itu saya??
Kayaknya kok sejauh ini saya ngerasa (dan orang lain suka menganggap) kalo saya ini berantakan, ceroboh dan manja. Dan ketujuh ketidaksukaan itu kayaknya sih enggak menggambarkan saya. Kalo saya kayak gitu, mestinya kan saya rapih, pinter, rajin, juara, dsb dsb. Tapi saya enggak. Tapi, kalo dipikir – pikir, pemikiran semacem di atas itu emang selalu ada,,biarpun enggak secara nyata disadari, tapi secara tidak sadar kayaknya mempengaruhi saya.
Kalo dipikir lagi,,apa sih yang salah dengan saya, sampe saya jadi orang yang begitu bergantung sama persepsi orang. Secara logis saya tahu bahwa itu bukan sesuatu yang bener,,karena persepsi orang juga relatif dan gak selalu sama. Persepsi siapa yang harus saya turutin? Buat apa?
Saya beruntung, saya agak punya beberapa keahlian, sehingga selama ini persepsi orang cenderung positif dan kayaknya itu lumayan menguatkan saya selama ini. Tapi selalu ada kecemasan tentang gimana orang memandang saya, according to gimana saya memandang orang lain. Entah kenapa, saya gampang banget ngeliat kelemahan orang. Dan itu bikin saya mikir, bahwa weak is bad, so I must not weak, so I won’t be bad.
Kalo dipikir, saya ini gada bedanya sama pecandu obat, karena saya juga nyandu,, saya nyandu pujian…Sama seperti mereka saya juga bisa gila kalo gada yang muji – muji saya…dan saya bakal melakukan apapun buat bisa mendapatkan pujian itu,.Mungkin saya juga bisa mati suatu saat nanti,,karena kayak Beethoven yang awalnya dipuji, akhirnya juga dihina – hina, gila dan mati miskin,.saya juga manusia sama kayak dia…yang bisa mengalami hal yang sama.,
Kadang saya capek juga bekerja keras demi pengakuan…banyak orang juga bilang, kadang – kadang saya ini nyusahin diri saya sendiri…saya bikin stress diri saya sendiri dengan menetapkan target dan bekerja kelewat batas…Tapi saya melakukan itu,,karena saya tahu kalo saya gak memaksa diri saya, saya bakal kalah dan gagal…dan saya gak bisa dan gak boleh gagal, Saya capek juga jadi orang gagal…Orang yang timnya selalu gagal…yang selalu gagal pas penyisihan…yang gagal karena enggak bisa matematika…yang gagal karena enggak cantik…yang gagal karena enggak kaya…yang gagal karena gak bisa olahraga…yang gagal karena enggak telaten…yang gagal karena enggak punya banyak temen…yang gagal karena gada sertifikat…yang gagal deh…
HAaHHRgGGHHH!!!!
Posted by: gitzlosophy on: November 13, 2008

071108
Entah gimana, media dan dunia seolah membuat pernyataan bahwa muram, sedih dan amarah adalah keren..I’m gonna make my own statement,,ceria is better than sad, optimis is better than muram, dan jokes is better than anger.
This is me,,saya mungkin gelisah, saya mungkin marah dan mungkin saya akan melampiaskan semua itu secara keras pada beberapa kesempatan,,tapi saya gak nganggep itu semua keren,,maybe it is good for some people, but being calm and mikir dulu is better…I’m still working on it…
This is me,,saya memang kompromis, dan sangat mungkin bagi saya untuk berubah…bagaimanapun saya ga terlahir……jebret …… sempurna,, Tuhan menciptakan banyak pihak dan kesempatan untuk memperbaiki saya,,jadi akan sangat ga bijaksana kalo saya menolak perubahan…kalo memang harus,,saya bersedia ‘menukar’ nilai dan pandangan lama saya dengan yang baru…Akan terkesan plin – plan, ga tegas dsb dsb…tapi,,kalo memang cukup berharga buat ‘ditukar’ dan memang bisa memperbaiki hidup saya…it’s fine…kenapa harus bersikeras? What’s wrong if my thought contain may different ideas from many different side?? Better than it contain nothing, isn’t it……?
This is me,,maybe I’m a good girl,,mungkin saya sok manis…mungkin saya terlalu berusaha menyenangkan banyak orang,,tapi apa salahnya sih bikin orang lain seneng…Toh,,,kalo mereka tahu sebenernya saya ini gimana,,,saya gak terlalu gitu juga sih…dan tindakan saya yang selalu mengkritik dan mengevaluasi apakah saya udah bisa jadi temen yang baik, mahasiswi yang baik, anak perempuan yang baik,,kakak yang baik,,apapun yang baik bagi orang lain…itu sepenuhnya saya lakukan buat ngimbangin kecuekan dan keegoisan saya…Don’t say I’m a good girl,,I’m not really good after all,,If you say so,,I say : You don’t know me,,I’m just trying to be a better girl,,
Posted by: gitzlosophy on: October 29, 2008
arghhh….
dasar list sialan…
saya jadi terbawa perasaan nih…
berawal dari suatu hari di musim libur lebaran…saya dan dua orang teman berinisiatif membuat list cowok – cowok yang bisa jadi ’stok’ buat menemani saya selama saya masih belum bisa menemukan my Mr.Right..soalnya penemuan Mr.Right tsb bakal berlangsung cukup lama berhubung saya agak milih2 gitu…yah..
nahh…kemudian setelah liburan saya mulai melakukan proses pdkt secara lisan maupun non lisan(sms-an maksudnya)…nah…dan…sepertinya…
arghhhh……
saya suka karena dia ‘bandel’ dan ‘berbeda’….tapi secara logis saya uda tahu konsekuensi dari naksir a guy like him…ugh!!!!
arghhhhh!!! Tidakkkkk!!!
Posted by: gitzlosophy on: August 27, 2008
uda cukup lama sejak usia saya bertambah menjadi 19 tahun….
tinggal setahun lagi buat saya untuk bisa muas2in diri menyebut diri teenage…secara di usia kepala 2…ga mungkin lagi bisa terjadi hal semacem itu….
urghh….
…..kemaren sempet ikut2an temen jadi panitia pendataan di jurusan…dan mendapatkan satu momen menyebalkan bersama seorang maba luar kota yang ngototan….
salah satu percakapan yang saya ingat adalah…saat saya saking sebelnya dengan sikap dia yang ngeyel menanyainya…
saya: “nggak punya kemampuan apa2??…lha…terus selama ini ngapain aja kamu hidup…?????”
(hening)
maba:”..yaaa…..(hening)………..hidup….”
saya:”………….”
nah….setelah beberapa waktu berlalu…nampaknya saya menyadari,,bahwa meskipun karakter perfeksionis saya uda memaksa saya untuk hidup dengan baik…well planned….sering kali..saya sama aja kayak maba itu…hidup….tanpa berpikir….
buktinya adalah kecenderungan saya untuk tanpa sadar mempermalukan diri sendiri, seperti:
1.menyalami orang yang ternyata mengulurkan tangan bukan untuk menyalami saya tapi meminta barang bawaan saya…hasil akhir: saya diketawain oleh hampir semua orang yang ada di situ + setiap ketemu dgn ybs selalu sebel krn ybs hobi bgt membahas peristiwa gak penting tsb
2.nggosip dengan sosok yang saya kira adalah temen kuliah, yang ternyata adalah asisten mahasiswa angkatan 200…entah 2000 berapa…hasil akhir: ybs tertawa terus menerus sampai akhir kuliah…akhirnya sih agak bisa kenal dg asisten ybs…tapi……kenapa musti pake cara begitu…!!!
3.duh..yang terakhir ini bener2 bikin saya berpikir bahwa saya HARUS BERUBAH : menaikkan celana di depan kajur aka dosen aka dosen koordinator….DI DEPAN KAJUR!!!!!! hasil akhir: …entahlah…saya masih berusaha melupakan hal tsb…
well,, mungkin uda waktunya buat saya buat :
1.pake heels ke kampus instead of…sepatu asal comot yang bergeletakan di teras
2.pake baju yang agak feminim dan dewasa instead of…baju tumpuk2, colorful plus aksesori karakter lucu warna pink…
3.berangkat ke kampus dengan kondisi uda berdandan rapi…instead of asal udah mandi, baju uda berkerah n uda pake sepatu…
4.berpikir sebentar sebelum ngomong ato ngapa2in…instead of..berpikir kemudian menyesali
hufff…..can it be??
Posted by: gitzlosophy on: June 29, 2008
24 Mei 2008
Susahnya jadi temen yang baik…
Resolusi jadi temen yang baek sudah muncul dari bulan Maret, tapi…sampe sekarang sepertinya saya tetep aja ga bisa jadi temen yang baik..
Kenapa ??
Ga tau juga…mungkin krn…
Hmm…
Saya juga agak bermasalah dengan kehidupan keluarga….
Sejujurnya, saya agak bingung menempatkan diri saya di antara keluarga, temen dan kuliah…yah…masalah klasik lah…cuman berhubung masalah sperti ini baru pertamakali saya hadapin…jadi agak bingung….
I am family girl,,saya orang rumahan,,saya suka di rumah seharian dan ngobrol dengan mama atau adek saya…saya suka di rumah aja sambil nulis, baca atau sekedar nonton vcd..saya suka banget kehidupan semacam itu…
Nah…masalahnya,,,mana bisa saya terus-terusan hidup kayak begitu….
Saya kan harus kuliah,,,harus bikin tugas..harus bergaul..dsb..dsb…
Hmm…itu belum termasuk kalo tiba2 saya harus pacaran….
Nah..sekarang,,setelah saya terpaksa harus sering pulang malem dan jarang di rumah…rasanya kayak ada yang kurang….
Adek saya sekarang udah males ngobrol sama saya,,soalnya saking capeknya seringkali saya ketiduran di tengah2 sesi curhat….dia juga agak ngambek juga sih..soalnya gara2 absennya saya dari rumah…dia terpaksa mengambil alih pekerjaan rumah jatah saya..
Hm…sorry sist…
Posted by: gitzlosophy on: June 29, 2008
01 Mei 2008
manusia menangis
menangisi kehidupan
menangisi kematian
menangisi kebahagiaan
menangisi kesedihan
menangisi diri sendiri
menangisi orang lain
Aku menangis
Tapi bukan untuk kehidupan
Dan juga kematian
Bukan untuk kebahagiaan
Juga bukan kesedihan
Bukan untukku
Dan bukan untuknya…
Aku menangis
Tanpa alasan
Salahkan jika aku bertanya
Manusiakah aku ?
Samakah aku dengan bayi – bayi yang terlahir dengan tangisan ?
Dengan sepasang kekasih yang menangis bahagia
Dengan seorang gadis yang menyembunyikan mukanya di balik bantal
Dan meneteskan air mata untuk sebuah perasaan sentimental ?
Apakah arti tangisan ini ?
Posted by: gitzlosophy on: June 29, 2008
01 Mei 2008
Aku lelah…
Mencoba mencari satu sosok
Yang jiwanya bisa kudiami
Yang hidupnya bisa kuselami
Yang kata-katanya tidak kusesali
Dan yang tindakannya tidak membuatku malu
Aku lelah…
Mencoba memberi nama
Pada sebuah tubuh
Yang tidak memiliki kehidupannya sendiri
Pada banyak pemikiran
Yang tidak memiliki tempat untuk bernaung
Aku lelah…
Mencoba menemukan seseorang
Yang berjati diri sempurna
Yang melengkapi pemikiranku
Yang memberi jawaban atas pertanyaanku
Yang mengendalikan gerakan tubuhku
Yang memelukku erat dan menahanku pergi
Aku sungguh lelah..
Aku terlalu lelah…
Posted by: gitzlosophy on: March 13, 2008
post pertama saya setelah KKM,,,
well..ternyata KKM dan kesibukan kuliah telah menyebabkan saya males nulis post karena ga da inspirasi….
oiya…kehidupan cinta yang garing juga bikin saya bingung mau ngepost apa…meskipun kehidupan kuliah dan study saya tidak segaring kehidupan cinta saya,,tapi ga cukup buat saya…
ribet ya??
kalo lagi naksir,,pengennya gak naksir aja..biar ga makan ati..biar ga kepikiran…
tapi..sekarang..kok rasanya garing ya….
oh Tuhan…
sungguh post ini sangat tidak penting..
Recent Comments